“Mengeluarkan sesuatu dari sesuatu yang bukan esensinya,” begitulah batasan ikhlas yang disampaikan Prof.Dr.Quraish Shihab, ketika saya menanyakan hal ini dalam sebuah wawancara dengannya untuk acara televisi.
“Terlalu sulit dipahami, Prof”, protes saya.
Dengan gayanya yang khas, beliau mengatakan, “Baik, lihatlah air di dalam gelas ini” sambil memegang kemudian mengambil gelas di hadapan kami yang berisi air mineral, tampak bening, bersih. Beliau lalu mengambil sebuah batu kecil yang ada di sekitar meja, kemudian memasukannya ke dalam gelas berisi air putih tadi. Dan dengan gayanya yang sudah saya hafal, sekaligus sukai sambil ia memasukan tangannya mengambil batu dari dalam gelas yang berisi air, lalu mengatakan:
“Eh….Wisnu, MENGELUARKAN SESUATU (yang adalah BATU dalam gelas berair ini) DARI SESUATU (yang adalah air) YANG BUKAN ESENSINYA BATU.”
Mengeluarkan batu dari yang bukan esensi air dari dalam gelas berisi air.
Itulah gambaran tentang ikhlas.
AHA…!!! Saya langsung bergetar seperti memasuki frekwensi yang dipancarkan Prof.Quraish. Saya menangkap sesuatu dan spontan mengalami insight. Ada sesuatu yang masuk ke dalam kesadaran saya. Tanpa menunggu saya serta merta bertanya, “Apakah air itu?”
Langsung beliau menjawab:
“AIR itu adalah HATI kita”.
Persis, seperti getaran yang saya tangkap dalam kesadaran saya. Saya pun terhenyak, diam sejenak. Mengeluarkan segala sesuatu yang bukan esensi dari hati, itulah ikhlas. Esensi hati adalah bersih. Ia merupakan “Divine Being” bagi manusia. Kehidupan dunia telah memungkinkan kita mengisinya, secara sadar atau tidak, dengan hal-hal yang mengotorinya.
Hati merupakan satu koin dua sisi. Sisi yang satu love, sisi yang lainnya fear.
Ketakutan menyertai dan mengikat amarah, benci, iri, dengki, kecewa dan perasaan negatif lainnya pada hati. Ketakutan berusaha menguasai hati agar cinta kehilangan perannya. Ketakutan selalu menutup informasi agar cinta bisa hidup dalam diri seseorang. Keikhlasan, boleh jadi, salah satu komponen cinta yang cara kerjanya membersihkan hati dari berbagai ketakutan tadi, agar cinta kembali menguasai hati.
Oleh karena itu, dalam kehidupan dunia ini pula, bila kita mau mengeluarkan, membersihkan hati dan tidak membiarkanya kotor maka kita telah memasuki zona ikhlas. Hati yang bersih, ikhlas, akan memudahkan kita mengakses Tuhan di universe dan dalam diri kita. Tuhan pun bahkan mendekat ketika hati tetap bersih dan tetap berkomitmen kepada esensinya itu.
I’m so greatful and enlightened to do. Do you?
- Wisnu Prayuda
Tags: 1 Comment
1 response so far ↓
Apakah ikhlas merupakan dimensi tertinggi dalam hidup manusia? Apakah ikhlas harus selalu berkorelasi dengan segala sesuatu yang berbau kesedihan, kehilangan terlebih dahulu?
Betapa sulit untuk sebuah ujung yang bernama ‘ikhlas’ itu, bukankah ikhlas di bibir tidak akan sama dengan ikhlas di hati…
Mohon keikhlasannya untuk memberi komentar…